BRMP Aceh Gelar Koordinasi dengan Brigade Pangan Seluruh Aceh di Aceh Timur
[Aceh Timur, 5 September 2025] Badan Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh menggelar kegiatan koordinasi dengan Brigade Pangan seluruh Aceh pada 5 September 2025 di BPP Peureulak Barat, Aceh Timur. Kegiatan ini dihadiri oleh Kapus BRMP-PKH yang merupakan penanggungjawab swasembada pangan Propinsi Aceh, Dr. drh. Agus Susanto; Kepala BRMP Aceh, Dr. Rachman Jaya, S.Pi.,M.Si; Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Propinsi Aceh, Ir. Safrizal; Kepala BRMP Ruminansia Kecil Medan; Babinsa; Pengurus BP Aceh Timur, dan Direktur PEPI.
Dalam sambutannya, Kabid TP Distanbun, Safrizal, menekankan bahwa Brigade Pangan dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan ekonomi petani. "Dengan adanya Brigade Pangan, pencapaian produksi sangat terlihat karena pemerintah telah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk petani seperti alsintan dan manajemen kelembagaan petani," ujarnya. Ia berharap Brigade Pangan dapat menjadi pionir dalam menggerakkan ekonomi petani dan memberikan dampak kesejahteraan bagi petani.
Sementara itu Penanggungjawab Brigade Pangan propinsi Aceh, Muharfiza menyoroti pentingnya pendataan terkait kebutuhan alsintan yang valid agar kebutuhan lapangan saat dibutuhkan dapat terpenuhi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) agar sesuai target yang diinginkan. Ia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2024, Aceh mendapatkan 59 Brigade Pangan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, dan pada tahun 2025, diberikan sebanyak 93 Brigade Pangan.
Dr. Drh. Agus Susanto, menekankan bahwa Brigade Pangan harus menjadi pionir yang bergerak untuk meningkatkan IP dari 2 menjadi 3. Caranya adalah dengan mengelola alsintan secara baik dan berkelanjutan, sehingga alsintan yang sudah ada bisa menambah alsintan lain dengan pengelolaan keuangan yang baik. Ia juga menyoroti pentingnya melestarikan kearifan lokal yang baik dan menguntungkan.
Di masa terdahulu karena masih memegang kebiasaan ada masa luah blang (masa tunggu) selama 3 bulan ada motto yang biasa menjadi pegangan masyarakat “jaroe bak langai, mata u pasai”. Dengan adanya perubahan dalam pengelolaan pertanian di Aceh mengikuti perkembangan masa koni, pengurus Brigade Pangan juga sempat menyampaikan motto baru, "Moto koh di likeu, Moto krok dilikot", yang berarti Combine Harvester di depan, Traktor mengikuti di belakang yang menunjukkan begitu selesai panen segera tanah siap untuk ditanam kembali.